Kilasbisnis.com, Surabaya - Minat pasar internasional terhadap kopi Indonesia terus tumbuh, seiring tingginya apresiasi buyer terhadap keragaman jenis, kualitas, dan karakter rasa kopi nusantara. Pembeli dari Prancis, Nigeria, Yordania, Australia, Singapura, Malaysia, hingga China menunjukkan ketertarikan terhadap produk kopi Indonesia dalam rangkaian Java Coffee & Flavors Fest (JCFF) 2026.
Namun, besarnya peluang tersebut berjalan beriringan dengan tantangan produksi. Hasil panen kopi tahun ini mengalami penurunan di sejumlah daerah akibat pengaruh iklim. Kondisi itu mengurangi ketersediaan bahan baku, meningkatkan harga kopi di tingkat petani, dan memperketat persaingan pasokan antara pelaku usaha kecil, pembeli domestik, serta pembeli internasional.
Baca juga: Tren Teh Artisan Muncul Kuat di JCFF 2026, UMKM Ikut Unjuk Gigi
Sebagai orang yang diberi peran untuk membantu proses ekspor para umkm pada buyer luar negeri, Fernanda Reza Muhammad dari Akademi Mudah Ekspor mengatakan buyer luar negeri tidak hanya mencari kopi Indonesia dengan kualitas baik, tetapi juga eksportir dan pemasok yang memiliki rekam jejak dapat dipercaya dalam memenuhi komitmen pesanan.
“Di luar negeri, banyak buyer yang mencari kopi Indonesia. Namun, mereka mencari pemasok yang bisa dipercaya dan benar-benar mampu memenuhi kebutuhan mereka.”
Ia menjelaskan, ketidaksesuaian antara volume yang ditawarkan dan stok yang tersedia dapat merusak kepercayaan buyer. Karena itu, pelaku UMKM perlu menghitung kesiapan pasokan secara realistis sebelum menyepakati transaksi ekspor.
“Jangan sampai buyer memesan tiga ton, tetapi yang tersedia hanya satu ton. Kondisi seperti itu membuat kepercayaan buyer turun dan dapat berdampak pada nama baik pemasok Indonesia.”
Bank Indonesia Dorong UMKM Menjaga Komitmen Pasokan
Dalam rangkaian JCFF 2026, Bank Indonesia mendorong pelaku kopi dan rempah yang mengikuti pameran untuk memperkuat tata kelola bisnis, terutama pada aspek kesiapan stok, konsistensi kualitas, dan kepastian pengiriman.
Pendampingan tersebut diperlukan karena pasar ekspor menuntut pelaku usaha tidak hanya mampu menghasilkan produk berkualitas, tetapi juga dapat menjaga komitmen volume sesuai perjanjian dengan pembeli. Ketersediaan stok yang telah diverifikasi menjadi bagian dari upaya menjaga kredibilitas UMKM binaan saat dipertemukan dengan buyer global.
Baca juga: JCFF 2026 Dorong UMKM Kopi & Rempah Masuk Era Pembiayaan Hijau
“Pelaku usaha yang ikut pameran perlu menawarkan volume sesuai stok yang benar-benar dimiliki. Kalau stoknya dua ton, maka yang ditawarkan juga dua ton, sehingga komitmen kepada buyer bisa dipenuhi," kata Reza.
Buyer Apresiasi Keragaman Kopi Nusantara
JCFF 2026 memperlihatkan kekayaan kopi Indonesia dari berbagai daerah, tidak hanya Jawa. Produk yang diperkenalkan juga berasal dari Sumatra, Sulawesi, Maluku, Papua, Bali, dan Nusa Tenggara, termasuk produk rempah-rempah yang menjadi bagian dari kekuatan komoditas Indonesia.
Menurut Fernanda, keragaman origin, proses pascapanen, dan profil rasa kopi Indonesia menjadi daya tarik tersendiri bagi buyer internasional. Banyak calon pembeli menilai kopi Indonesia memiliki kualitas yang baik dan pilihan rasa yang luas.
Baca juga: Keyakinan Konsumen Jawa Timur Tetap Kuat pada Mei 2026, IKK 122,6
“Buyer cukup terkejut melihat betapa banyaknya variasi kopi Indonesia. Mereka mengapresiasi kualitas, hasil olahan, dan karakter rasa kopi dari berbagai daerah di Indonesia.”
Sebanyak 50 UMKM mengikuti showcase dalam JCFF 2026. Sementara itu, 85 pelaku usaha dari sektor kopi dan rempah mengikuti rangkaian business matching, yang diawali pertemuan daring selama lima hari sebelum sesi tatap muka.
Melalui showcase dan business matching, pelaku usaha memperoleh ruang untuk mempromosikan produk, membangun jejaring dagang, serta menjajaki peluang transaksi dengan calon buyer. Pada saat yang sama, penguatan disiplin stok dan pemenuhan pesanan menjadi fondasi untuk membangun relasi perdagangan ekspor yang berkelanjutan. (Nik)
Editor : Sekar Arum Catur