Kilasbisnis.com, Malang -- Pembangunan proyek strategis nasional Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung Karangkates di Waduk Sutami, Kabupaten Malang, Jawa Timur, menunjukkan progres signifikan. Hingga Oktober 2026, konstruksi infrastruktur proyek energi ramah lingkungan ini telah mencapai 70 persen.
Direktur Utama PLN Nusantara Power (PLN NP), Ruly Firmansyah, mengatakan bahwa percepatan pembangunan ini merupakan komitmen perusahaan dalam memperkuat bauran energi baru terbarukan (EBT) sekaligus mendukung agenda transisi energi nasional.
Baca juga: Momentum Sumpah Pemuda 5.000 Mahasiswa dan Santri Jatim Gelar Konsolidasi Akbar di Mapolda Jatim
"Pembangunan PLTS Terapung Karangkates terus menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Saat ini, konstruksi infrastrukturnya telah mencapai 70 persen," ujar Ruly dalam keterangannya, Kamis (29/10).
Ia menegaskan, capaian tersebut menjadi dorongan bagi PLN NP untuk mengawal penyelesaian proyek secara optimal dengan tetap mengutamakan aspek keselamatan, kualitas, dan keandalan pembangkit.
Calon PLTS Terapung Terbesar Kedua di Indonesia
Dengan kapasitas terpasang mencapai 133 megawatt peak (MWp), PLTS Terapung Karangkates diproyeksikan menjadi pembangkit listrik tenaga surya terapung terbesar kedua di Indonesia. Proyek ini mengekor kesuksesan PLTS Terapung Cirata di Jawa Barat yang berkapasitas 192 MWp.
Kehadiran fasilitas anyar ini sekaligus menempatkan Jawa Timur sebagai salah satu episentrum penting dalam pengembangan energi surya terapung di Tanah Air.
"Setelah keberhasilan pengembangan PLTS Terapung Cirata, kami terus mendorong pemanfaatan potensi energi terbarukan di berbagai wilayah. PLTS Terapung Karangkates diharapkan tidak hanya menjadi yang terbesar di Jawa Timur, tetapi juga membuka peluang infrastruktur energi bersih lainnya," imbuh Ruly.
Manfaatkan 3,7 Persen Area Waduk
Berlokasi di kawasan Waduk Sutami/Karangkates—yang mencakup Kecamatan Sumberpucung dan Kalipare, Kabupaten Malang—proyek ini mengedepankan optimalisasi ruang tanpa mengorbankan fungsi utama perairan.
Dari total luas permukaan waduk sekitar 1.905 hektare pada kondisi normal, area yang digunakan untuk modul surya hanya seluas kurang lebih 71,435 hektare atau setara dengan 3,7 persen dari keseluruhan area. Penempatan modul photovoltaic (PV) juga telah disesuaikan dengan karakteristik waduk, termasuk kondisi Low Water Level (LWL), guna menjaga keberlanjutan ekosistem perairan.
Secara teknis, PLTS Terapung Karangkates dirancang dengan delapan PV island dan rasio DC/AC rata-rata sebesar 1,33 guna memaksimalkan produksi listrik secara efisien.
Selain fasilitas pembangkit, proyek ini juga mencakup pembangunan infrastruktur penyaluran listrik, seperti jaringan transmisi 150 kV sepanjang 4,6 kilometer sirkuit (2,3 kilometer rute) serta extension bay di Gardu Induk Sutami 150 kV.
Baca juga: Wisuda ke-123 Unesa, Lulusan Didorong Jadi Solusi Menuju Indonesia Emas 2045
Target Operasi Awal 2027
Memasuki fase akhir konstruksi, fokus pekerjaan diarahkan pada penyelesaian fasilitas utama, sistem kelistrikan, serta rangkaian pengujian teknis termasuk backfeeding power dan sinkronisasi jaringan.
PLN Nusantara Power menargetkan inisiasi produksi listrik pertama (first generation) dapat dimulai pada awal Desember 2026, sebelum resmi beroperasi penuh pada awal 2027.
"Kami berkomitmen menjaga momentum percepatan pembangunan agar seluruh tahapan selesai sesuai target, dengan tetap memegang teguh standar keselamatan dan kualitas," pungkas Ruly.
Editor : Redaksi