Kilasbisnis.com, Surabaya - Penguatan manajemen talenta menjadi salah satu upaya menyiapkan siswa Indonesia melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi terbaik dunia.
Proses itu dilakukan melalui pengembangan rekam jejak, keterampilan, karakter, serta sinergi antara siswa, sekolah, pemerintah, dan DPR. Hal tersebut disampaikan dalam Inspiring Edu Talk Bootcamp Regional Jawa Timur yang berlangsung di SMA Al-Hikmah Surabaya, Senin (7/9/2026).
Sekolah Garuda Jadi Bagian dari Manajemen Talenta
Ketua Tim Beasiswa Garuda Ratna Prabandari mengatakan SMA Unggul Garuda Transformasi menjadi bagian dari rangkaian pengembangan talenta yang terhubung dengan Beasiswa Garuda Sarjana dan Manajemen Talenta Nasional.
Dia mengatakan pendaftaran SMA dan MA untuk menjadi SMA Unggul Garuda Transformasi kembali dibuka pada 2026. Sebelumnya, terdapat 12 sekolah yang telah terdaftar dalam program tersebut pada 2025.
“Pada 2025 telah ada 12 sekolah yang terdaftar sebagai SMA Unggul Garuda Transformasi. Tahun 2026 ini dibuka kembali pendaftaran bagi sekolah SMA dan MA yang memenuhi persyaratan untuk mendaftar menjadi SMA Unggul Garuda Transformasi 2026,” ujarnya.
Menurut Ratna, proses pengembangan talenta perlu dilakukan sejak dini. Rekam jejak calon penerima beasiswa mulai dilihat sejak siswa berada di kelas IX.
“Untuk mendapatkan beasiswa, track record penerima beasiswa akan dilihat sejak kelas IX,” katanya.
Ratna mengatakan peluang beasiswa bagi siswa cukup terbuka. Karena itu, siswa diminta tidak ragu mengejar cita-cita.
“Dulu di jaman saya, untuk mendapatkan beasiswa itu tidak mudah. Karena terbatas. Namun saat ini, beasiswa banyak dari berbagai pihak sehingga tidak ada alasan untuk tidak menggapai mimpi,” tutur Ratna.
Keterampilan Menghadapi Perubahan Dunia Kerja
Ratna juga menyoroti perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang akan mempengaruhi dunia bisnis dan pekerjaan.
“Tren bisnis di masa depan adalah adanya teknologi AI,” ucapnya.
Dalam diskusi itu, perubahan dunia kerja dibahas melalui sejumlah kategori, yakni pekerjaan yang dibutuhkan, pekerjaan yang hilang, pekerjaan yang stabil, serta pekerjaan yang relatif sedikit tetapi strategis.
Perubahan tersebut membuat siswa perlu menyiapkan keterampilan yang sesuai. Selain kemampuan akademik, siswa dituntut mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan dunia kerja.
Pengalaman Mahasiswa Oxford
Mahasiswa University of Oxford, Azka Adziman, mengatakan dukungan keluarga membantunya fokus mengembangkan bidang yang diminati. Dia menyebut orang tuanya tidak memberikan tekanan dalam menentukan pilihan pendidikan.
“Tidak ada penekanan dari orang tua. Orang tua hanya mengarahkan secara leadership dan memberikan keyakinan bahwa apa pun yang Azka suka harus dijalani sungguh-sungguh,” kata Azka.
Dukungan itu, kata dia, membuatnya dapat fokus mengembangkan minat di bidang robotika.
“Support itu yang membuatnya fokus pada bidang yang ia sukai seperti robotika,” ujarnya.
Karakter Menjadi Penjaga
Namun penguatan talenta tidak cukup hanya mengandalkan prestasi akademik. Anggota Komisi X DPR RI dari daerah pemilihan Jawa Timur I, Reni Astuti, mengatakan karakter dan adab menjadi bekal untuk mencapai posisi tinggi pada masa depan.
“Untuk mencapai posisi yang tinggi di masa depan, karakter dan adab sebagai penjaganya, seperti kejujuran dan integritas, adab kepada guru dan orang tua, serta tanggung jawab sosial,” kata Reni.
Saat ini, menurut Reni potret pendidikan di Indonesia masih belum sempurna. Dalam survei World top 20 Project yang dipublikasikan melalui worldtop20.or, Indonesia ada di urutan ke 67 dari 203 negara.
Meski demikian, Reni juga menyebut ada juga diaspora Indonesia yang berprestasi di tingkat dunia.
“Kita juga punya diaspora Indonesia yang berprestasi dan diakui dunia. Ada tokoh B.J. Habibie, Prof. Agus Pulung di Kanada, Prof. Ken Kawan di Jepang,” ujarnya.
Sinergi Menuju Kampus Terbaik Dunia
Reni mengatakan peningkatan kualitas pendidikan membutuhkan kerja sama antara siswa, sekolah, pemerintah, dan DPR. Dia menyebut kesungguhan belajar siswa perlu diikuti dengan kebijakan yang mendukung pengembangan talenta.
Menurut Reni, siswa perlu menunjukkan kesungguhan belajar, sementara pemerintah dan DPR mengawal kebijakan pendidikan.
“Guru, siswa kelas XI atau XII menunjukkan kesungguhan belajar, dan DPR akan mengawal kebijakan pemerintah,” katanya.
Kegiatan tersebut turut menghadirkan Direktur Bina Talenta Sains dan Teknologi Adi Nuryanto serta Dekan FMIPA Universitas Negeri Surabaya Prof. Wasis.
Diskusi membahas persiapan siswa menghadapi pendidikan tinggi, perkembangan keterampilan, perubahan dunia kerja, dan penguatan karakter sebagai bagian dari manajemen talenta nasional.
Melalui penguatan manajemen talenta, siswa diharapkan memiliki bekal akademik, keterampilan, rekam jejak, dan karakter untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi terbaik dunia.
Editor : Sekar Arum Catur