JCFF 2026 Dorong UMKM Kopi & Rempah Masuk Era Pembiayaan Hijau

Reporter : Ardhia Putri

Kilasbisnis.com, Surabaya - Business Coaching Pembiayaan dalam rangka Java Coffee & Flavor Fest (JCFF) 2026 kembali menegaskan arah baru pertumbuhan UMKM Indonesia. Kegiatan yang berlangsung Jumat, 17 Juli 2026 di Hotel Kampi Surabaya ini digelar oleh Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem kopi, cokelat, dan rempah melalui inklusi pembiayaan dan praktik hijau.

Dorongan menuju pertumbuhan hijau menjadi semakin relevan ketika ekonomi regional menghadapi kebutuhan untuk memperkuat sektor-sektor produktif. Di tengah dinamika tersebut, UMKM kopi dan rempah muncul sebagai sektor yang mampu mendorong transformasi, khususnya setelah diarahkan untuk mengakses pembiayaan formal dan mengadopsi praktik usaha berkelanjutan.

Baca juga: Sinergi BI, Pemprov, dan OJK Digenjot demi Investasi Berkualitas Jatim

Fundamental literasi pelaku usaha di Jawa Timur semakin memperkuat peluang tersebut. Asisten Direktur Divisi Pengawasan OJK Jawa Timur, Indrawan Nugroho Utomo, menegaskan, “Tingkat literasi keuangan pelaku usaha dan sektor swasta di Jawa Timur telah mencapai 88 persen, di atas rata-rata nasional.”

Ia menambahkan bahwa akses pembiayaan juga terus meluas.

“Per Februari 2026, pembiayaan UMKM di Jawa Timur telah mencapai Rp222 triliun.” Indrawan menekankan agar pembiayaan dimanfaatkan secara produktif.

“Harus dipastikan bahwa penggunaan pembiayaan itu benar-benar untuk pembiayaan usaha, bukan untuk gaya hidup.”

Dari sisi kontribusi ekonomi, UMKM Jawa Timur berada pada posisi strategis. Kredit Analis Bank Jatim, Alan Kurniawan, menyampaikan bahwa Jumlah UMKM Jawa Timur diperkirakan mencapai 9,78 juta unit, dengan 4,61 juta UMKM non-pertanian dan 5,16 juta UMKM sektor pertanian. Ia menegaskan besarnya peran UMKM dalam ekonomi regional.

“UMKM terbukti memberikan kontribusi sebesar 59,55 persen terhadap PDRB Jawa Timur pada 2025," katannya.

Bank Jatim juga memastikan kesiapan akses pembiayaan melalui prosedur yang lebih terstruktur, termasuk persyaratan umum seperti NIK, NPWP, NIB, dan agunan.

Baca juga: BI Ramal Ekonomi Jatim Tumbuh Hingga 5,7% di Kuartal II-2026

Arah pembiayaan UMKM kini tidak hanya bersifat konvensional. Pembiayaan hijau membuka peluang baru bagi usaha berbasis keberlanjutan, sebagaimana disampaikan  Kepala Divisi Penyaluran Pinjaman BPDLH Kementerian Keuangan RI, Eko Prasondita.

“Program Dana Layanan Masyarakat dibuka tiga kali setahun, dengan sekitar 3.000 pendaftar yang kemudian diseleksi menjadi 600 penerima."

Ia menegaskan relevansinya bagi usaha pertanian dan lingkungan. Eko mengatakan Program ini diperuntukkan bagi UMKM dan kelompok masyarakat yang bergerak dalam penghijauan, energi terbarukan, jasa lingkungan, pengolahan sampah, pemberdayaan dan peningkatan usaha. Bahkan sektor kopi turut memperoleh peluang.

“Skema ini juga dapat dimanfaatkan oleh petani kopi, termasuk UMKM yang memiliki pohon sebagai bagian dari kontribusi terhadap upaya penghijauan.”

Baca juga: Keyakinan Konsumen Jawa Timur Tetap Kuat pada Mei 2026, IKK 122,6

Dengan sinergi antara pembiayaan formal dan skema hijau, UMKM kopi dan rempah diarahkan menjadi pilar ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

JCFF 2026—yang berlangsung 17 hingga 19 Juli 2026 di Surabaya—memperkuat upaya ini melalui rangkaian aktivitas pembinaan, business matching, dan penguatan rantai nilai. Model seperti ini menjadikan UMKM bukan hanya penggerak ekonomi lokal, tetapi juga agen transisi menuju ekonomi hijau yang lebih tangguh. (*)

 

 

Editor : Redaksi

Ekonomi
Berita Populer
Berita Terbaru