Kilasbisnis.com, Surabaya - Antrean panjang kendaraan terjadi di sejumlah SPBU di Kabupaten Jember, Jawa Timur, Kamis (5/3) malam. Kepadatan dipicu aksi panic buying masyarakat setelah beredarnya informasi mengenai ketahanan stok bahan bakar minyak (BBM) yang disebut hanya cukup untuk 23–25 hari.
Lonjakan pembelian membuat antrean kendaraan terlihat di hampir seluruh SPBU di wilayah tersebut.
Ketua DPC Hiswana Migas Besuki Ikbal Wilda Fardana mengatakan kepadatan di SPBU dipicu pemberitaan yang beredar terkait ketahanan stok BBM. Informasi itu memicu kekhawatiran warga sehingga banyak masyarakat langsung mendatangi SPBU untuk mengisi bahan bakar.
“Menurut hemat saya ini karena adanya pemberitaan terkait ketahanan stok BBM yang disebut cukup untuk 23 hari. Itu yang awal mula memicu masyarakat melakukan pembelian berlebihan di masing-masing SPBU,” kata Ikbal saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon.
Meski demikian, Ikbal menegaskan hingga saat ini kondisi stok BBM dan proses pengiriman ke SPBU di wilayah Jember masih dalam kondisi aman dan terkendali.
Ia mengaku mendapat laporan dari salah satu SPBU di kawasan Kota Jember bahwa ketersediaan BBM masih mencukupi dan tidak ada gangguan distribusi.
“Kalau terkait stok BBM maupun pengiriman sampai saat ini aman dan terkendali. Informasi yang saya terima dari salah satu SPBU di wilayah kota, stoknya masih banyak,” ujarnya.
Namun Ikbal mengingatkan jika masyarakat terus melakukan pembelian berlebihan dalam waktu singkat, stok BBM di SPBU berpotensi cepat habis akibat lonjakan permintaan.
“Tapi kalau masyarakat melakukan pembelian berlebihan, apalagi sampai besok, ketersediaan stok BBM bisa saja habis karena permintaan meningkat drastis,” katanya.
Menyikapi kondisi tersebut, Hiswana Migas Besuki sejak siang hari telah mengimbau pengusaha SPBU di Jember untuk melakukan sosialisasi langsung kepada konsumen melalui operator SPBU. Langkah ini dilakukan agar masyarakat memperoleh informasi yang benar mengenai kondisi stok BBM.
“Siang tadi saya sudah menyampaikan kepada teman-teman pengusaha SPBU agar operator memberikan sosialisasi kepada masyarakat bahwa stok BBM dan pengiriman aman. Operator juga diminta menyampaikan langsung kepada konsumen agar tidak menelan mentah-mentah informasi yang beredar,” ujarnya.
Selain itu, pihaknya juga mengingatkan pengelola SPBU untuk mengantisipasi potensi penimbunan BBM oleh oknum yang memanfaatkan situasi kepanikan masyarakat. Pengawasan terhadap pembelian dalam jumlah besar pun mulai diperketat.
“Kami juga menyampaikan terkait pengendalian pembelian oleh tengkulak. Dalam situasi seperti ini kami mengantisipasi adanya oknum yang melakukan penimbunan,” kata Ikbal.
Ia menambahkan lonjakan antrean kendaraan di SPBU mulai terlihat sejak siang hari dan terus meningkat hingga malam. Hampir seluruh SPBU di Kabupaten Jember dilaporkan mengalami kepadatan kendaraan yang hendak mengisi BBM.
“Dari tadi siang memang sudah mulai ramai, kemudian malam ini juga sudah terjadi antrean di seluruh SPBU di Kabupaten Jember,” ujarnya.
Untuk mengantisipasi dampak lebih luas, Hiswana Migas Besuki juga berkoordinasi dengan aparat penegak hukum dan pemerintah daerah agar situasi tetap kondusif serta distribusi BBM berjalan lancar.
“Tentunya kami juga melakukan koordinasi dengan APH dan pemerintah agar kondisi tetap terkendali,” katanya.
Sementara itu, salah satu warga yang antre membeli BBM di SPBU Ahmad Yani, Rudy Setiawan, mengaku sengaja mengisi bahan bakar setelah mendengar informasi mengenai keterbatasan stok BBM dalam beberapa hari ke depan.
“Sebagai langkah antisipasi saya ikut antre beli bensin. Bahkan tadi saya juga menyimpan satu galon untuk jaga-jaga di rumah,” kata Rudy.
Menurut dia, cadangan BBM tersebut diperkirakan cukup digunakan selama sekitar 10 hari.
“Dengan stok satu galon ini saya kira cukup untuk 10 hari ke depan,” ujarnya.
Editor : Redaksi