Kilasbisnis.com, Surabaya - Ada hari-hari ketika kampus tidak hanya menjadi tempat orang belajar dari buku, tetapi juga tempat orang belajar tentang bangsanya sendiri. Sabtu, 9 Mei 2026, Graha Unesa di Kampus II Lidah Wetan terasa seperti ruang pertemuan yang sengaja dipersiapkan untuk mengingatkan banyak orang bahwa Indonesia bukan hanya soal peta, bendera, dan upacara. Indonesia juga soal bunyi, lirik, ingatan, dan rasa.
Universitas Negeri Surabaya (Unesa) berkolaborasi dengan Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta Lagu, dan Pemusik Republik Indonesia (PAPPRI) serta Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI) menghadirkan Dialog Kebangsaan bertema “Mengenal Diri, Mengenal Indonesia”. Di ruangan itu, akademisi, seniman, budayawan, dan mahasiswa bertemu dalam suasana yang tidak kaku. Ada musik, ada gagasan, ada percakapan yang pelan-pelan mengingatkan bahwa kebangsaan tidak selalu hadir dalam bentuk yang berat dan formal. Kadang, ia datang lewat lagu.
Sejumlah musisi nasional ikut menjadi narasumber, di antaranya Bimbim Slank, Once Mekel, Alffy Rev, Shanna Shannon, dan Novia Bachmid. Kehadiran mahasiswa disabilitas berprestasi, Nanda Mei Solichah, juga memberi warna tersendiri pada forum itu. Seolah acara ini ingin menegaskan bahwa Indonesia memang luas, dan luas itu harus cukup ramah untuk semua orang.
Dalam sambutannya, Rektor Unesa, Nurhasan atau yang akrab disapa Cak Hasan, berbicara tentang seni dan budaya sebagai kekuatan utama Indonesia untuk bersaing di tingkat global. Ia menempatkan musik sebagai salah satu warisan budaya yang paling dekat dengan generasi muda. Musik, kata dia, punya kemampuan yang tidak dimiliki banyak hal lain: menyatukan orang-orang yang berbeda tanpa perlu banyak penjelasan.
Menurutnya, musik menjadi bahasa universal yang mampu menyatukan ribuan suku, budaya, dan bahasa di Indonesia tanpa harus dibatasi oleh perbedaan.
Cak Hasan menegaskan bahwa seni budaya adalah keunggulan bangsa yang harus terus dijaga dan dikembangkan. Tetapi pelestarian tidak bisa berhenti di romantisme masa lalu. Seni dan budaya perlu mengikuti perkembangan zaman supaya tetap sampai ke generasi yang hidup di tengah layar, algoritma, dan kecepatan yang tak pernah benar-benar memberi jeda.
“Seni budaya adalah keunggulan Indonesia yang bisa kita banggakan di kancah internasional. Maka dari itu, kemasan dan pemanfaatan teknologi menjadi faktor kunci. Mari gunakan platform digital untuk mengenalkan serta melestarikan warisan kita, agar jati diri bangsa tidak meluntur dan tetap abadi sepanjang zaman,” ujarnya.
Di sesi diskusi, Alffy Rev membawa peserta keluar sebentar dari hiruk-pikuk dunia yang serba cepat. Ia berbicara tentang zaman yang membuat orang ingin semua hal selesai secepat mungkin. Hasil ingin instan. Proses sering dianggap gangguan. Padahal, menurutnya, manusia justru tumbuh lewat perjalanan yang pelan, bukan lewat tergesa-gesa.
Ia memakai pohon sebagai perumpamaan. Bagi Alffy Rev, pohon tidak sibuk memamerkan tinggi. Ia lebih dulu menguatkan akar. Sebuah cara pandang yang sederhana, tetapi justru sering kita lupakan.
“Kita hidup di dunia yang memuja kecepatan tapi lupa akan kedalaman. Saya berusaha berhenti sejenak untuk memaknai apa akar kita. Saya terinspirasi dari pohon yang tidak tergesa untuk tumbuh, tetapi menguatkan akarnya terlebih dahulu,” katanya.
Sementara itu, Bimbim Slank melihat derasnya arus globalisasi musik dunia, termasuk K-Pop, bukan sebagai ancaman yang harus ditakuti. Baginya, itu justru menjadi semacam pemantik agar musik Indonesia terus bergerak. Bukan diam, bukan mengeluh, melainkan beradaptasi dan berinovasi.
Menurutnya, Indonesia punya modal budaya yang sangat besar. Kekayaan itu bukan sekadar bahan bangga-banggaan, tetapi sumber ide yang tidak pernah habis digali. Dalam kata lain, kalau musisi Indonesia mau jujur menengok sekeliling, bahan lagu dan inspirasi sebenarnya sudah terlalu banyak.
“Justru K-Pop atau musik dunia membuat kita lebih berpacu, bersaing, dan terinspirasi. Budaya kita itu lengkap banget dan banyak yang bisa dieksplorasi,” ujarnya.
Bimbim juga menyinggung soal ketimpangan sosial yang masih menjadi pekerjaan rumah besar. Dari situlah, menurutnya, Slank tak hanya bernyanyi tentang cinta. Mereka juga terus menyelipkan isu lingkungan hidup, kritik sosial, dan semangat anak muda dalam karya-karyanya. Musik, dalam pandangannya, bukan cuma soal enak didengar. Musik juga bisa menjadi cara untuk tetap waras di tengah keadaan yang belum tentu baik-baik saja.
Di sesi tanya jawab, Once Mekel menjelaskan bahwa perannya sebagai musisi dan anggota dewan saling terhubung. Ia tidak memisahkan keduanya seperti dua dunia yang tak pernah bertemu. Bagi Once, berada di parlemen justru membuka jalan untuk memperjuangkan aspirasi para seniman, terutama dalam isu perlindungan hak cipta.
“Saya berusaha agar Undang-Undang Hak Cipta bisa menjadi jalan tengah baik untuk pencipta, penyanyi, dan berbagai pihak lain,” jelasnya.
Dialog kebangsaan di Unesa itu pada akhirnya meninggalkan satu pesan yang sederhana tetapi penting: seni, musik, dan budaya bukan pelengkap dalam kehidupan berbangsa. Ia adalah bagian dari cara sebuah bangsa mengenali dirinya sendiri. Dan mungkin memang begitulah cara Indonesia bertahan: dengan terus bernyanyi, terus belajar, dan terus ingat siapa dirinya.
Editor : Redaksi