Gejolak Global Tekan Pasar, OJK Pastikan Stabilitas

Reporter : Ardhia Putri

Kilasbisnis.com, Surabaya -  Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai stabilitas sektor jasa keuangan (SJK) tetap terjaga di tengah meningkatnya ketidakpastian global dan dinamika domestik.

Penilaian tersebut disampaikan dalam Rapat Dewan Komisioner Bulanan OJK pada 1 April 2026, sebagaimana disampaikan Kepala Departemen Surveillance dan Kebijakan Sektor Jasa Keuangan Terintegrasi OJK, Agus Firmansyah.

Baca juga: TPS Edukasi Sopir Truk soal Anti Suap, Perkuat Komitmen Pelindo Bersih

OJK mencermati eskalasi tensi geopolitik di kawasan Teluk yang meningkatkan risiko terhadap stabilitas global. Gangguan pada infrastruktur energi di Timur Tengah hingga penutupan Selat Hormuz mendorong lonjakan harga energi serta volatilitas pasar keuangan.

OECD dalam Interim Economic Outlook Maret 2026 sebelumnya memproyeksikan penguatan ekonomi global. Namun, proyeksi tersebut terkoreksi seiring eskalasi konflik di Timur Tengah.

Ketidakpastian global dan tekanan harga energi juga mempersempit ruang kebijakan moneter global serta memunculkan kembali ekspektasi suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama (high for longer).

Dari sisi global, ekonomi Amerika Serikat menunjukkan tekanan akibat inflasi yang persisten dan kenaikan pengangguran. The Federal Reserve pada Maret 2026 mempertahankan suku bunga acuan dengan indikasi satu kali pemangkasan tahun ini. Namun, pascaeskalasi konflik Iran, pasar kini mengarah pada skenario tanpa pemangkasan suku bunga sepanjang 2026.

Sementara itu, ekonomi China mencatat kinerja di atas ekspektasi, ditopang perbaikan permintaan dan penawaran serta stimulus sektor keuangan. Meski demikian, pemerintah China menurunkan target pertumbuhan sebagai respons terhadap tantangan struktural dan ketidakpastian eksternal.

Di dalam negeri, inflasi inti pada Maret 2026 tercatat menurun. Konsumsi tetap solid, tercermin dari pertumbuhan penjualan ritel yang diperkirakan mencapai 6,89 persen secara tahunan serta penjualan kendaraan bermotor yang tetap kuat.

Dari sisi produksi, aktivitas ekonomi masih berada di zona ekspansif meskipun mengalami moderasi, sebagaimana tercermin pada PMI manufaktur. Ketahanan eksternal juga terjaga dengan cadangan devisa Februari 2026 yang memadai serta neraca perdagangan yang mencatat surplus.

Pasar Modal Berfluktuasi

Pergerakan pasar saham domestik sepanjang Maret 2026 cenderung fluktuatif sejalan dengan bursa global dan regional. Volatilitas meningkat akibat berlanjutnya konflik geopolitik di Timur Tengah.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di level 7.048,22 pada akhir Maret 2026, turun 14,42 persen secara bulanan dan 18,49 persen secara tahun berjalan.

Baca juga: Pertamina Pastikan Pasokan LPG Aman saat Long Weekend Paskah di Jawa Timur

Rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) tercatat Rp20,66 triliun, menurun dibandingkan Februari 2026 sebesar Rp25,62 triliun. Penurunan tersebut mencerminkan sikap wait and see investor di tengah ketidakpastian global.

Dari sisi likuiditas, rata-rata bid-ask spread tercatat 1,55 kali, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 1,24 kali.

Investor asing mencatatkan net sell Rp23,34 triliun pada Maret 2026, berbalik dari posisi net buy Rp0,36 triliun pada Februari. Tekanan jual dipengaruhi transaksi di pasar negosiasi pada sejumlah saham emiten.

Di pasar obligasi, Indonesia Composite Bond Index (ICBI) ditutup di level 433,16, turun 2,03 persen secara bulanan dan 1,74 persen secara tahun berjalan. Imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) naik rata-rata 44,47 basis poin secara bulanan dan 54,51 basis poin secara tahun berjalan, seiring meningkatnya persepsi risiko global.

Investor nonresiden mencatat net sell Rp21,80 triliun di pasar SBN sepanjang Maret 2026, dengan akumulasi tahun berjalan sebesar Rp25,09 triliun. Sementara itu, pasar obligasi korporasi mencatat net buy Rp0,92 triliun secara bulanan.

Industri pengelolaan investasi bergerak sejalan dengan kondisi pasar. Nilai asset under management (AUM) tercatat Rp1.084,10 triliun, turun 1,62 persen secara bulanan, namun masih tumbuh 3,97 persen secara tahun berjalan.

Baca juga: Harga BBM Pertamina Tak Berubah per 1 April 2026

Nilai aktiva bersih (NAB) reksa dana tercatat Rp695,71 triliun, turun 2,51 persen secara bulanan dan tumbuh 3,02 persen secara tahun berjalan. Kinerja ini ditopang oleh net subscription sebesar Rp29,12 triliun secara kumulatif tahun berjalan.

Jumlah investor pasar modal terus meningkat. Sepanjang Maret 2026, terdapat tambahan 1,78 juta investor baru. Secara tahun berjalan, jumlah investor tumbuh 21,51 persen menjadi 24,74 juta investor.

Dari sisi pembiayaan, pasar modal tetap menjadi sumber pendanaan jangka panjang. Hingga Maret 2026, nilai penghimpunan dana mencapai Rp51,96 triliun, terdiri dari satu IPO saham, enam penawaran umum efek bersifat utang dan/atau sukuk (EBUS), serta 36 penawaran umum berkelanjutan EBUS.

Dalam pipeline, terdapat 53 rencana penawaran umum dengan nilai indikatif Rp25,79 triliun.

Untuk securities crowdfunding (SCF), sepanjang Maret 2026 tercatat 14 efek baru serta tiga penerbit baru.

Editor : Redaksi

Ekonomi
Berita Populer
Berita Terbaru