Tak Sempat Wisuda, Kisah Linda mahasiswa Unesa yang meninggal saat menyusun jurnal skripsi

Reporter : Ardhia Putri
Kartiwi, menggantikan langkah yang tak sempat diselesaikan Linda, anaknya. Ijazah itu akhirnya diterima—bukan oleh yang berjuang langsung, tapi oleh hati yang paling kehilangan. (Foto: Ardhia tap)

Kilasbisnis.com, Surabaya — Suasana haru menyelimuti Wisuda ke-120 Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Kamis, 25 Juni 2026. Di tengah deretan toga dan wajah-wajah bahagia, ada satu kisah yang berjalan pelan: seorang ibu hadir menggantikan anaknya yang telah tiada.

Kartiwi, warga Kandangan, Kediri, datang mewakili putrinya, Linda Ayu Tivani (22), mahasiswi Unesa yang meninggal dunia sebelum sempat mengikuti prosesi wisuda. Ia semula mengira masih ada waktu melihat anaknya mengenakan toga. Namun sakit yang datang diam-diam merenggut kesempatan itu.

Baca juga: Wisuda ke-120 di Graha Unesa, 500 Lulusan Disiapkan Hadapi Geopolitik dan Disrupsi Digital

Di aula wisuda, pemandangan terasa serupa seperti biasanya—toga hitam, senyum yang mengembang, dan orang tua yang menahan haru. Tapi bagi Kartiwi, ada satu kursi yang terasa kosong: tempat yang seharusnya diduduki Linda.

Linda nyaris mencapai garis akhir. Di tengah sakitnya, ia tetap menyelesaikan revisi jurnal. Ia menolak cuti. Ia tak ingin kehilangan beasiswa, juga tak ingin menambah beban keluarga.

Dengan mata berkaca-kaca, Kartiwi maju ke depan. Ia menerima ijazah dan bukti kelulusan anaknya—hasil dari perjuangan yang tak sempat dirayakan bersama.

Kartiwi (kiri) bersama anaknya menunjukkan ijazah dan foto mendiang Linda Ayu Tivani usai prosesi wisuda Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Surabaya. Linda dinyatakan lulus, namun wafat sebelum sempat mengikuti wisuda. (foto: Ardhia Tap)

Ibunya sudah pernah meminta Linda berhenti sejenak. Beristirahat. Biaya kuliah, katanya, bisa diupayakan. Waktu bisa ditunda. Namun Linda memilih bertahan.

“Dia enggak mau katanya takut beasiswanya. Saya bilang enggak papa nanti carikan uang buat bayar UKT, dia tetap enggak mau,” kata Kartiwi.

Sakit itu datang tanpa banyak tanda. Berawal dari batuk, lalu pemeriksaan rontgen menunjukkan paru-paru yang memutih. Cairan di paru-paru harus diambil. Dari awalnya 250 mililiter, jumlahnya terus bertambah hingga sekitar 6 liter.

“Dokternya juga gimana ya cairannya kok banyak sekali, biasanya normalnya tiga sampai 4 liter, ini ada kurang lebih 6 liter, hitam sekali. Saya juga kaget,” ujar Kartiwi.

Baca juga: Unesa Bagikan 35.000 Porsi Sarapan Pagi, Dukung Konsentrasi Mahasiswa Selama UAS

Linda sempat pulang dari rumah sakit dalam kondisi membaik. Ia sudah bisa berjalan. Harapan sempat muncul, meski singkat. Empat hari kemudian, kondisinya kembali menurun. Tangannya tak bisa diangkat. Keluarga berupaya mencari oksigen sendiri. Hingga akhirnya, pada pagi 26, Linda meninggal dunia.

Di sisi lain, prosesi wisuda tetap berlangsung. Nama-nama dipanggil, gelar disematkan. Sebagian orang tua menitikkan air mata—air mata lega.

Rektor Unesa, Prof. Nurhasan, menyampaikan belasungkawa atas kepergian Linda. Ia menyebut kehadiran keluarga dalam wisuda itu menjadi simbol perjuangan yang tak selesai disaksikan oleh yang bersangkutan.

“Kami menyampaikan duka cita yang mendalam atas berpulangnya salah satu mahasiswi kami. Hari ini keluarganya hadir mewakili untuk menerima bukti kelulusan yang menjadi hasil perjuangan almarhumah selama menempuh pendidikan di Unesa,” ujarnya.

Sebagai bentuk penghormatan, Unesa memberikan beasiswa kepada adik Linda, Carolina Anjelin Valeta (16), yang saat ini duduk di kelas XI SMA.

Baca juga: Seminar di Unesa, Yusril Tekankan Urgensi Regulasi AI dan Gig Economy

“Nanti adiknya akan kami beri beasiswa untuk melanjutkan studi di Unesa setelah lulus sekolah. Kami berharap ia bisa meneruskan cita-cita dan semangat kakaknya,” kata Nurhasan.

Kartiwi berdiri di sana, menggantikan posisi anaknya. Ia menerima ucapan selamat yang seharusnya menjadi milik Linda. Di benaknya, mungkin masih tersisa satu bayangan: seorang anak berjalan ke depan panggung, menerima ijazah, lalu menoleh mencari ibunya di antara kerumunan.

Namun yang tersisa kini hanya bayangan itu.

Di antara toga-toga yang telah dikenakan, ada satu yang tak sempat dipakai. Dan seorang ibu yang menyimpan cerita tentang anak pendiam—yang memendam sakitnya sendiri, hingga garis akhir itu dilewati tanpa sempat dirayakan. (Nik)

Editor : Sekar Arum Catur

Ekonomi
Berita Populer
Berita Terbaru