OJK: Pembiayaan UMKM Jawa Timur Tertinggi Nasional, Literasi Keuangan Jadi Kunci

Reporter : Ardhia Putri
Layanan SLIK OJK dalam acara JCFF 2026 di Surabaya. (Sumber Foto : Catur Irawan)

Kilasbisnis.com, Surabaya - Otoritas Jasa Keuangan menekankan pentingnya literasi keuangan sebagai fondasi bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah dalam mengakses pembiayaan secara sehat. Di tengah pertumbuhan layanan keuangan digital, UMKM juga perlu memahami risiko utang, investasi ilegal, serta penipuan digital agar pembiayaan benar-benar mendukung pengembangan usaha.

Pembiayaan UMKM Jawa Timur Capai Rp222 Triliun

Asisten Direktur Divisi Pengawasan Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi dan Pelindungan OJK, Indrawan Nugroho Utomo, menyampaikan bahwa OJK terus mempermudah akses pembiayaan bagi UMKM melalui sejumlah program.

Baca juga: Penutupan JCFF 2026 Catat Komitmen Pembiayaan Rp20 Miliar

“Literasi keuangan itu penting. OJK mempermudah pembiayaan untuk UMKM. Ada beberapa program yang diberikan.”

Ia menyebut, penyaluran pembiayaan kepada UMKM di Jawa Timur merupakan yang terbesar dibandingkan provinsi lain di Indonesia. Nilainya mencapai Rp222 triliun hingga Februari 2026.

“Pembiayaan untuk UMKM di Jatim paling tinggi di seluruh provinsi di Indonesia, Rp222 triliun per Februari 2026.”

Pernyataan tersebut disampaikan Indrawan saat acara business matchin Java Coffee & Flavors Fest 2026 yang digelar Bank Indonesia pada Sabtu, 18 Juli 2026.

Literasi Keuangan Menjadi Dasar Akses Pembiayaan

Menurut Indrawan, tingkat literasi keuangan di kalangan pengusaha dan pekerja swasta telah berada di atas rata-rata nasional, yakni sebesar 88 persen. Namun, pemahaman keuangan tetap perlu diperkuat agar masyarakat menggunakan layanan keuangan secara tepat.

“Seharusnya masyarakat mengakses lembaga keuangan sudah harus paham tentang literasi keuangan.”

Baca juga: Buka Peluang Ekspor Baru, Business Matching JCFF 2026 Pertemukan Kopi Ijen dengan Buyer Yordania

Literasi keuangan, lanjutnya, tidak hanya berkaitan dengan kemampuan memperoleh pinjaman atau menggunakan produk keuangan. Pemahaman tersebut diperlukan untuk membangun ketahanan finansial masyarakat, termasuk bagi pelaku UMKM yang membutuhkan modal untuk mengembangkan usaha.

“Literasi keuangan ini juga diperlukan untuk menjadi pondasi masyarakat untuk tangguh dan kuat dalam finansial. Bagi UMKM hal tersebut juga diperlukan.” Katanya.

Sumber Pembiayaan Tidak Hanya dari Perbankan

Indrawan menjelaskan bahwa pembiayaan UMKM saat ini masih banyak diperoleh melalui sektor perbankan. Namun, terdapat pula alternatif pendanaan melalui pasar modal, salah satunya berupa securities crowdfunding.

Skema tersebut membuka peluang bagi UMKM untuk menghimpun dana dari masyarakat melalui instrumen pasar modal, dengan tetap memperhatikan ketentuan dan pengawasan yang berlaku.

Baca juga: Permintaan Kopi Indonesia Menguat, Eksportir Tekankan Kepastian Stok bagi Buyer Global

Bijak Berutang untuk Memperbesar Usaha

Dalam kegiatan business matching, OJK juga menekankan bahwa pelaku UMKM harus memiliki sikap bijak ketika berbelanja dan mengambil utang. Pinjaman seharusnya dipakai untuk kegiatan produktif dan penguatan modal usaha, bukan untuk membiayai gaya hidup.

"Untuk pengembangan permodalan perlu dipahami apakah konsumsi dan belanja sudah bijaksana. Misalnya usaha baru berkembang tapi sudah bergaya hidup mewah, dan lain-lain.”

Ia menilai literasi keuangan menjadi semakin penting ketika masyarakat menghadapi tekanan untuk mengikuti gaya hidup tertentu. Pelaku usaha perlu memprioritaskan pertumbuhan bisnis ketimbang pengeluaran konsumtif.

Akses pembiayaan yang luas perlu disertai pemahaman yang kuat mengenai pengelolaan uang, risiko utang, dan legalitas lembaga keuangan. Bagi UMKM, pinjaman yang digunakan secara produktif dapat memperbesar kapasitas usaha, sedangkan keputusan keuangan yang tidak bijak dapat mengganggu keberlanjutan bisnis.

Editor : Sekar Arum Catur

Ekonomi
Berita Populer
Berita Terbaru