Mentan Bagi Bibit Kedelai Gratis ke Unesa, Target Produksi 3,5 Ton per Hektare

Reporter : Ardhia Putri

Kilasbisnis.com, Surabaya - Menteri Pertanian memberikan bantuan bibit kedelai unggul dan alat mesin pertanian kepada Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Bantuan tersebut merupakan bagian dari kerja sama pengembangan kedelai untuk mendukung program swasembada pangan.

Kerja sama itu ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman antara Kementerian Pertanian dan Unesa. Dalam program tersebut, Unesa menyiapkan lahan seluas 56 hektare untuk budi daya kedelai.

Baca juga: Pemerintah Salurkan Bantuan Beras untuk 33,4 Juta Penerima

Menteri Pertanian mengatakan Kementerian Pertanian memberikan bibit kedelai secara gratis untuk seluruh lahan tersebut. Pemerintah juga menyediakan traktor roda empat untuk mengolah lahan.

“Unesa punya lahan 56 hektare. Kami berikan bibit gratis. Traktor roda empat juga gratis untuk mengolah lahan. Nanti pengelolaannya dilakukan dosen-dosen Unesa,” kata Menteri Pertanian.

Produksi kedelai dari lahan tersebut ditargetkan mencapai minimal 3,5 ton per hektare. Hasil panen nantinya akan dibeli oleh Kementerian Pertanian untuk kemudian disalurkan kepada masyarakat Jawa Timur.

“Insyaallah produksinya bisa mencapai minimal 3,5 ton per hektare. Semua hasil produksi dari lahan 56 hektare akan kami beli. Setelah itu, hasilnya diberikan gratis kepada masyarakat Jawa Timur,” ujarnya.

Program pengembangan kedelai tersebut akan dilakukan secara berkelanjutan. Menurut Mentan, program itu sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk mewujudkan swasembada kedelai.

## Kerja Sama dengan Perguruan Tinggi

Mentan mengatakan Unesa dipilih karena memiliki lahan yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan kedelai. Selain Unesa, Kementerian Pertanian juga menjalin kerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi lain untuk mengembangkan komoditas pertanian berbeda.

Institut Pertanian Bogor (IPB), misalnya, diarahkan untuk mengembangkan padi. Kementerian Pertanian telah menyiapkan anggaran sekitar Rp250 miliar untuk program tersebut.

Sementara itu, kerja sama dengan perguruan tinggi lainnya diarahkan pada pengembangan bibit jagung. Pengadaan bibit jagung senilai sekitar Rp10 miliar telah dilakukan dan ditargetkan mulai menghasilkan dalam empat bulan ke depan.

Baca juga: Polda Jatim Bongkar Arisan Online Fiktif, 140 Korban Rugi Rp71 Miliar

“Pembagiannya tergantung kemampuan dan keunggulan masing-masing perguruan tinggi. Ada yang mengembangkan padi, jagung, kedelai, dan komoditas lainnya,” kata Mentan.

Mentan juga mendorong perguruan tinggi untuk mengembangkan peralatan pertanian. Menurutnya, hasil riset dan inovasi kampus perlu dimanfaatkan untuk memperkuat sektor pertanian dalam negeri.

“Daripada membeli produk dari luar negeri, kita harus bangga dengan produk-produk perguruan tinggi dalam negeri,” ujarnya.

## Mahasiswa Bisa Ikut Magang

Kerja sama antara Kementerian Pertanian dan Unesa juga membuka peluang keterlibatan mahasiswa. Mahasiswa berpotensi dilibatkan melalui program magang maupun kegiatan berbasis pembelajaran lapangan.

Mentan menyebut mahasiswa dapat mengikuti program magang selama empat bulan. Program tersebut diperkirakan memiliki bobot sekitar 12 SKS, dengan pelaksanaan yang disesuaikan dengan kebijakan akademik Unesa.

Baca juga: Mentan Copot Koordinator SPPG Surabaya karena Tak Serap Telur Peternak Sesuai Ketentuan

“Kami tadi juga sudah membicarakan kemungkinan mahasiswa ikut. Mudah-mudahan Pak Rektor bisa menindaklanjutinya. Mahasiswa bisa magang selama empat bulan,” katanya.

Selain pengembangan lahan dan sumber daya manusia, Kementerian Pertanian menyiapkan alat dan mesin pertanian untuk mendukung pembentukan brigade pertanian.

Brigade pertanian merupakan kelompok atau unit kerja yang mengelola alat dan mesin pertanian untuk mendukung kegiatan budi daya, mulai dari pengolahan lahan hingga panen.

Mentan mengatakan kolaborasi antara pemerintah, industri, dan perguruan tinggi menjadi kunci dalam memperkuat ekosistem pertanian nasional. Pemerintah berperan sebagai regulator, industri sebagai pelaku usaha, sedangkan perguruan tinggi menjadi sumber inovasi dan teknologi.

“Kalau konsep *triple helix* dijalankan dengan baik, negara ini akan kuat. Pemerintah sebagai regulator, industri sebagai pengusaha, dan akademisi menciptakan inovasi baru,” pungkasnya.

Editor : Redaksi

Ekonomi
Berita Populer
Berita Terbaru