Kilasbisnis, Surabaya - Kinerja industri perbankan di Jawa Timur terus menunjukkan tren positif. Hingga April 2026, total penyaluran kredit perbankan di provinsi ini mencapai Rp628,02 triliun, tumbuh 2,87 persen (year on year/YoY).
Di saat yang sama, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) juga meningkat menjadi Rp840,77 triliun, tumbuh 5,78 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Baca juga: Usung Semangat Nourishing Indonesia Kampanye “Temani Langkahmu, Kini dan Nanti”
Direktur Pengawasan Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, Perlindungan Konsumen dan Layanan Manajemen Strategis Kantor OJK Provinsi Jawa Timur, Horas VM Tarihoran, mengatakan kondisi industri perbankan di Jawa Timur tetap solid dengan tingkat permodalan dan likuiditas yang kuat.
“Rasio likuiditas bank umum yang berkantor pusat di Jawa Timur terpantau sangat longgar. Indikator AL/DPK mencapai 29,13 persen dan AL/NCD berada di posisi 135,70 persen, jauh di atas ambang batas minimum,” ujarnya saat media briefing di Surabaya, Senin (22/6/2026).
Selain itu, rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) bank yang berkantor pusat di Jawa Timur mencapai 32,92 persen, sementara rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) gross tetap terkendali di level 3,72 persen.
Berdasarkan jenis penggunaannya, penyaluran kredit di Jawa Timur masih didominasi oleh kredit modal kerja yang mencapai Rp314,67 triliun atau setara 50,11 persen dari total kredit.
Selanjutnya, kredit konsumsi tercatat sebesar Rp198,90 triliun atau 31,67 persen, sedangkan kredit investasi mencapai Rp114,45 triliun atau 18,22 persen.
Baca juga: Pertamina Tambah 922.680 Tabung LPG 3 Kg di Jatim
Sementara itu, berdasarkan sektor ekonomi, penyaluran kredit terbesar masih mengalir ke sektor rumah tangga dengan nilai Rp191,80 triliun atau 30,54 persen dari total kredit.
Posisi berikutnya ditempati sektor perdagangan besar dan eceran sebesar Rp156,90 triliun (24,98 persen), industri pengolahan Rp121,21 triliun (19,30 persen), sektor pertanian, perburuan dan kehutanan Rp51,12 triliun (8,14 persen), serta sektor konstruksi Rp23,02 triliun (3,67 persen).
OJK Soroti Tingginya NPL UMKM
Di segmen Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), outstanding kredit tercatat mencapai Rp230,93 triliun, dengan kontribusi 36,77 persen terhadap total penyaluran kredit di Jawa Timur. Meski demikian, OJK mencatat rasio kredit bermasalah UMKM sudah mencapai 5,45 persen, melampaui ambang batas yang ditetapkan.
Menurut Horas, kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri dan memerlukan penguatan ekosistem UMKM melalui proses kurasi, edukasi, serta peningkatan literasi keuangan agar pelaku usaha dapat memanfaatkan pembiayaan perbankan secara lebih sehat dan berkelanjutan.
Baca juga: Keyakinan Konsumen Jawa Timur Tetap Kuat pada Mei 2026, IKK 122,6
Di sisi lain, penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) di Jawa Timur menunjukkan performa yang baik. Per April 2026, outstanding KUR mencapai Rp67,76 triliun dengan NPL yang tetap terjaga di level 2,12 persen.
Capaian tersebut menempatkan Jawa Timur sebagai provinsi dengan penyaluran KUR terbesar kedua secara nasional setelah Jawa Tengah, sekaligus menyumbang 31,45 persen dari total KUR di Pulau Jawa.
Secara umum, indikator penyaluran kredit dan penghimpunan dana menunjukkan kinerja yang menguat, sementara fokus pengawasan tetap diarahkan pada kualitas kredit, terutama di segmen UMKM.
Editor : Redaksi