Kilasbisnis.com, Surabaya - Profesor dalam bidang Teknologi Pembelajaran Seni Budaya Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Prof. Dr. Martadi, M.Sn., menegaskan bahwa teknologi bukan ancaman bagi seni tradisi, melainkan mitra strategis dalam menjaga dan menghidupkan kebudayaan. Hal tersebut disampaikannya saat pengukuhan profesor Unesa yang mengukuhkan sembilan profesor baru, di Graha Sawunggaling Unesa, Selasa (10/2/2026).
Martadi dikukuhkan profesor dalam bidang teknologi pembelajaran seni budaya. Menurut Martadi, masih ada anggapan keliru di masyarakat bahwa kehadiran teknologi akan menggeser atau mematikan seni tradisi. Padahal, keduanya dapat dikolaborasikan untuk membentuk harmoni dalam pembelajaran dan pelestarian budaya.
“Teknologi justru bisa digunakan untuk mengonstruksi kembali seni-seni tradisi agar tetap hidup dan dapat diwariskan kepada anak-anak,” ujarnya.
Ia menjelaskan, melalui teknologi, pengalaman belajar yang sebelumnya sulit dihadirkan secara langsung kini dapat disimulasikan dalam ruang kelas. Teknologi memungkinkan siswa memahami konteks budaya secara lebih nyata, meski tidak berada langsung di lingkungan asal budaya tersebut.
Prof. Dr. Martadi, M.Sn. menyampaikan keterangan kepada wartawan usai pengukuhan profesor dalam rapat terbuka senat akademik Universitas Negeri Surabaya.
Martadi mengungkapkan, risetnya yang telah dilakukan sejak lama menunjukkan Indonesia memiliki kekayaan seni budaya yang sangat beragam di setiap daerah. Namun, nilai dan karakter budaya tersebut belum sepenuhnya terinternalisasi dalam pembelajaran di sekolah.
“Ketika ditelusuri di sekolah, karakter budaya lokal itu sering tidak muncul. Anak-anak akhirnya lebih mengenal budaya luar karena lebih mudah diakses,” katanya.
Berangkat dari kondisi tersebut, Martadi bersama tim melakukan pemetaan budaya di seluruh provinsi untuk mengidentifikasi nilai-nilai yang dapat diinternalisasikan dalam pendidikan. Nilai-nilai tersebut kemudian dikemas menggunakan teknologi menjadi bahan ajar, salah satunya dalam bentuk buku tematik berbasis budaya lokal.
Ia mencontohkan, siswa di Banyuwangi dapat mempelajari kurikulum nasional melalui tema dan konteks budaya daerahnya sendiri. Dengan cara ini, peserta didik tetap memiliki wawasan global, namun berpijak kuat pada nilai-nilai keindonesiaan.
“Anak-anak kita harus menjadi SDM unggul dengan pemikiran global, tetapi kakinya tetap kokoh pada budaya bangsa. Kekuatan Indonesia ada pada keberagaman dan kekayaan seni budayanya,” pungkas Martadi.
Pengukuhan profesor ini diharapkan dapat memperkuat peran akademisi Unesa dalam pengembangan inovasi pembelajaran berbasis budaya serta pelestarian seni tradisi di tengah perkembangan teknologi. (Nik)
Editor : Redaksi