Kilasbisnis.com, Karanganyar - Teh Gambyong Kemuning di Karanganyar, Jawa Tengah, berkembang dari usaha rumahan bermodal Rp 8 juta menjadi produk teh lokal dengan omzet Rp 200 juta hingga Rp 300 juta per bulan. Usaha yang dirintis Eko Wuryanto itu kini menggandeng 26 petani dan memiliki sekitar 620 reseller.
Eko memulai usaha pada 2012 setelah bekerja di sebuah perusahaan teh selama dua tahun. Ia melihat potensi perkebunan teh di Kemuning, tempat tinggalnya yang juga dikenal sebagai kawasan wisata.
“Teh itu salah satu kebutuhan yang hampir setiap hari dikonsumsi masyarakat. Kebetulan lingkungan tempat saya tinggal juga berada di kawasan perkebunan teh,” ujar Eko, Selasa (6/10/2026).
Pada masa awal, produksi Teh Gambyong hanya sekitar 50 kilogram per bulan dan belum seluruhnya terserap pasar. Keuntungan yang didapat saat itu sekitar Rp 300 ribu per bulan. Namun, usaha tersebut terus berkembang. Omzet yang tercatat sekitar Rp 85 juta per bulan pada 2023, kemudian meningkat menjadi sekitar Rp 250 juta hingga Rp 300 juta per bulan pada 2026.
Perkembangan usaha itu berjalan beriringan dengan perluasan kemitraan petani. Dari semula lima hingga enam petani yang memasok sekitar 20-30 kilogram teh basah, kini Teh Gambyong bekerja sama dengan 26 petani yang mengelola lahan sekitar lima hektare.
Bahan baku yang dikelola mencapai sekitar 50-60 ton teh basah, dengan dukungan sekitar 25 pemetik. Dengan rendemen sekitar 22,5 persen, bahan baku tersebut diolah menjadi teh hijau, teh hitam, teh putih, serta teh rempah seperti jahe, sereh, kumis kucing, teh ripan, dan jati cina.
Teh hitam menjadi salah satu produk yang paling banyak diminati. Sejumlah pabrikan bahkan menyatakan minat untuk mengambil produk Teh Gambyong. Namun, Eko mengatakan kapasitas produksi saat ini belum cukup untuk memenuhi permintaan tersebut.
“Kami sebenarnya sudah ada beberapa pabrikan yang ingin mengambil produk. Tetapi kebutuhan kami sendiri belum tercukupi, sehingga belum bisa menyuplai,” katanya.
Salah satu ciri Teh Gambyong adalah karakter rasanya yang menyerupai kopi. Menurut Eko, rasa tersebut bukan berasal dari campuran kopi, melainkan karakter alami teh yang tumbuh di kawasan Kemuning.
Untuk mengikuti selera pasar, Teh Gambyong juga mengembangkan beragam produk, antara lain teh melati, jahe, sereh, mint, perpaduan rasa leci dan markisa, matcha, serta teh putih. Produk matcha mulai diminati sejumlah restoran di Jakarta, tetapi produksinya masih terbatas sekitar 15-20 kilogram per bulan.
“Harapan kami, Teh Gambyong meskipun produk lokal bisa diterima secara nasional dengan kualitas yang mampu bersaing secara internasional,” ujarnya.
Pengembangan usaha ini turut mendapat pendampingan Bank Indonesia, antara lain dalam produksi, bantuan peralatan, promosi, serta fasilitasi pameran dan *business matching*. Salah satunya melalui Java Coffee & Flavors Fest (JCFF) 2026 di Surabaya pada Juli 2026.
Dalam kegiatan itu, Teh Gambyong bertemu dengan pembeli asal Boyolali yang kini memesan sekitar 3.000 potong produk per hari, dengan nilai transaksi sekitar Rp 6 juta per hari.
“Unik juga, mitra kami dari Boyolali justru bertemu di Surabaya. Dari satu buyer saja, setiap hari kami bisa mendapatkan sekitar Rp6 juta,” kata Eko.
Jaringan pemasaran Teh Gambyong ikut bertambah. Jumlah reseller yang sekitar 235 orang pada 2025 kini meningkat menjadi sekitar 620 orang.
**Berupaya meningkatkan kesejahteraan petani**
Eko mengatakan pengembangan usaha tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan kapasitas bisnis, tetapi juga memberi manfaat ekonomi bagi petani sekitar. Selain 26 petani mitra saat ini, sekitar 15 petani lain telah menyatakan minat bergabung dengan total lahan sekitar 15 hektare.
Teh Gambyong berupaya membeli pucuk teh dengan harga minimal Rp 5.000 per kilogram. Harga tersebut lebih tinggi dibandingkan harga sekitar Rp 2.300 per kilogram di sejumlah daerah.
“Keuntungan bukan hanya untuk saya sendiri. Saya ingin bagaimana 26 petani ini benar-benar ikut merasakan manfaat dan tetap semangat. Kalau petaninya sejahtera, mereka juga akan semakin semangat merawat kebunnya,” tuturnya.
Teh Gambyong juga menjadi tempat edukasi bagi pengunjung dan mahasiswa. Mereka dapat melihat proses pengolahan teh, mulai dari penanaman, pemetikan, pelayuan, penggulungan, dan pengeringan hingga menjadi produk siap jual. Sejumlah mahasiswa dari perguruan tinggi di Jawa Tengah dan Jawa Timur juga menjadikan usaha tersebut sebagai lokasi penelitian.
Di tengah pertumbuhan bisnis, Eko masih menghadapi kendala dalam pengelolaan manajemen, promosi, peralatan produksi, dan ketersediaan sumber daya manusia. Hampir seluruh proses, mulai dari produksi hingga pemasaran dan pengelolaan keuangan, masih ditangani langsung.
Pasokan bahan baku juga menurun saat musim kemarau karena pertumbuhan pucuk teh melambat. Sementara itu, peluang ekspor mulai terbuka setelah sejumlah calon pembeli menyatakan minat. Namun, kebutuhan mereka sekitar satu kontainer atau 35-45 ton per bulan belum dapat dipenuhi karena produksi masih diprioritaskan untuk pasar domestik.
Dari sisi legalitas, Teh Gambyong telah mengantongi sertifikasi halal dan PIRT. Perusahaan juga menyiapkan perizinan BPOM serta pemenuhan standar HACCP dan ISO.
“Harapan kami ke depan ada pendampingan untuk pengajuan BPOM. Kami ingin memperluas pasar, tetapi kapasitas produksi dan berbagai persyaratan juga harus terus kami perkuat,” pungkas Eko.
Editor : Redaksi