Waspada Child Grooming di Era Interaksi Digital

Reporter : Sekar Arum Catur
ilustrasi aktivitas digital anak memerlukan pengawasan dan pendampingan. (Foto: Ai)

Kilasbisnis.com, Surabaya - Ancaman child grooming semakin relevan di tengah meningkatnya aktivitas digital anak. Ruang digital yang menyediakan akses informasi, hiburan, dan interaksi tanpa batas juga membuka celah terjadinya kejahatan yang menyasar anak secara bertahap dan terselubung.

Child grooming merupakan proses pendekatan yang dilakukan pelaku untuk membangun kepercayaan dan kedekatan emosional dengan anak. Tujuan akhirnya adalah melakukan eksploitasi atau kekerasan seksual. Proses ini tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan melalui tahapan yang dirancang untuk membuat anak merasa aman dan diperhatikan.

Baca juga: Mengenal Modus Child Grooming di Ruang Digital

Peningkatan penggunaan gawai oleh anak menjadi salah satu faktor yang memperluas risiko tersebut. Media sosial, aplikasi pesan instan, dan permainan daring memungkinkan anak berinteraksi dengan banyak pihak tanpa batas ruang dan waktu. Dalam kondisi ini, pelaku memanfaatkan komunikasi privat yang minim pengawasan untuk mendekati korban secara perlahan.

Pelaku kerap memosisikan diri sebagai teman sebaya, kakak, atau figur yang dianggap memahami dunia anak. Pendekatan diawali dengan percakapan ringan, pujian, atau perhatian intens. Seiring waktu, komunikasi berkembang ke ranah pribadi dan membangun rasa percaya serta ketergantungan emosional.

Pada tahap lanjutan, pelaku mulai menguji batas dengan meminta rahasia, foto, atau video pribadi. Pelaku juga dapat berupaya menjauhkan korban dari lingkungan terdekat, termasuk keluarga dan teman, untuk memperkuat kontrol. Proses ini sering berlangsung tanpa disadari oleh anak maupun orang tua.

Teknologi digital turut memberi ruang bagi pelaku untuk menyamarkan identitas. Penggunaan akun anonim atau identitas palsu membuat usia dan latar belakang pelaku sulit dikenali. Bagi anak dengan literasi digital terbatas, interaksi tersebut kerap dianggap sebagai pertemanan biasa.

Baca juga: Sinergi GMNI Surabaya dan RLD, Cetak Kader Cakap Literasi di Era Digital

Dampak child grooming terhadap korban tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga psikologis dan sosial. Korban berisiko mengalami trauma, kecemasan, rasa bersalah, dan gangguan kepercayaan diri. Dampak ini dapat memengaruhi hubungan sosial, prestasi belajar, serta perkembangan emosional anak dalam jangka panjang.

Upaya pencegahan menjadi bagian penting dalam menghadapi ancaman ini. Orang tua dan pendidik berperan mengawasi penggunaan gawai, membangun komunikasi terbuka, serta memberikan pemahaman mengenai risiko interaksi digital. Anak juga perlu dibekali pengetahuan tentang batasan privasi dan cara mengenali perilaku mencurigakan.

Selain itu, anak perlu didorong untuk berani melapor jika merasa tidak nyaman saat berinteraksi di ruang digital. Lingkungan keluarga dan sekolah berfungsi sebagai ruang aman bagi anak untuk menyampaikan pengalaman.

Baca juga: Rumah Literasi Digital - Telkomsel Dorong Generasi Muda Ber-Sosmed yang Sehat

Dalam penanganan kasus child grooming, perlindungan terhadap korban menjadi prioritas. Identitas dan privasi anak wajib dijaga, sementara pelaku diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Pendampingan psikologis dan sosial menjadi bagian dari proses pemulihan korban.

Ancaman child grooming di tengah meningkatnya aktivitas digital menuntut kewaspadaan bersama. Edukasi, pengawasan, serta peran keluarga dan lingkungan diperlukan agar ruang digital dapat digunakan anak secara lebih aman. (*)

Editor : Ardhia Putri

Ekonomi
Berita Populer
Berita Terbaru