kilasbisnis.com, Surabaya- Pertumbuhan transaksi dan pengguna QRIS terus menunjukkan tren ekspansif sejak pertama kali diluncurkan pada 2019. Bank Indonesia mencatat lonjakan signifikan baik dari sisi jumlah pengguna, merchant, maupun volume transaksi, mencerminkan akselerasi digitalisasi sistem pembayaran nasional.
Ekonom Senior Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia, Willy Togi, menyampaikan bahwa pertumbuhan QRIS sejak peluncuran awal tergolong eksponensial.
Pada 2019, jumlah pengguna QRIS masih berada di kisaran 1,6 juta. Namun hingga 2025, jumlah tersebut telah meningkat menjadi sekitar 43 juta pengguna. Dari sisi transaksi, volume QRIS telah mencapai 15,51 miliar transaksi.
“Kalau dulu masyarakat terbiasa membawa uang tunai atau kartu, sekarang cukup dengan telepon genggam sudah bisa melakukan pembayaran digital. Perubahannya sangat cepat,” ujar Willy dalam kegiatan Capacity Building Media Jawa Timur 2026.
Menurut dia, kemudahan penggunaan menjadi salah satu faktor pendorong utama pertumbuhan tersebut. Dengan hanya mencetak satu lembar kode QR, pelaku usaha sudah dapat menerima pembayaran dari berbagai aplikasi pembayaran digital.
Willy menegaskan bahwa struktur merchant QRIS saat ini didominasi oleh pelaku usaha mikro. Sekitar 95% merchant QRIS berasal dari segmen usaha mikro.
Kondisi ini menunjukkan bahwa adopsi pembayaran digital tidak hanya terjadi di sektor usaha menengah dan besar, tetapi justru tumbuh kuat di lapisan bawah perekonomian.
“QRIS dirancang sederhana dan berbiaya relatif murah, sehingga sangat cocok untuk UMKM. Itu sebabnya pertumbuhannya sangat pesat,” katanya.
Dengan penetrasi yang luas di sektor mikro, QRIS turut mendorong peningkatan inklusi keuangan. Pelaku UMKM yang sebelumnya belum terhubung dengan sistem keuangan formal kini terdorong untuk membuka rekening dan mengakses layanan perbankan.
Lonjakan pengguna dan transaksi QRIS juga mencerminkan perubahan perilaku masyarakat dalam bertransaksi. Pembayaran digital kini menjadi pilihan utama, seiring meningkatnya penetrasi smartphone dan layanan keuangan digital.
Menurut Willy, dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan QRIS tidak lagi terbatas di kota besar, melainkan telah menjangkau berbagai daerah di Indonesia.
“Pertumbuhannya tidak hanya besar dari sisi angka, tetapi juga merata secara geografis. Ini menunjukkan transformasi sistem pembayaran kita berjalan cukup cepat,” ujarnya.
Ke depan, Bank Indonesia menargetkan pertumbuhan berkelanjutan dengan memperluas ekosistem QRIS, baik dari sisi jumlah pengguna maupun merchant, seiring penguatan infrastruktur sistem pembayaran nasional.
Secara keseluruhan, capaian 43 juta pengguna dan 15,51 miliar transaksi menandai fase baru digitalisasi pembayaran di Indonesia, dengan QRIS sebagai tulang punggung transaksi ritel nasional.
Editor : Redaksi