Kilasbisnis.com,Surabaya – Institut Sains dan Teknologi Terpadu Surabaya (iSTTS) menggelar Bootcamp Artificial Intelligence for Journalist bagi puluhan jurnalis dari Surabaya dan Sidoarjo, Selasa (3/2/2026). Kegiatan ini ditujukan untuk membekali insan pers dengan keterampilan praktis kecerdasan buatan sekaligus memperkuat etika, akurasi, dan tanggung jawab jurnalistik di tengah masifnya pemanfaatan AI di ruang redaksi.
Bootcamp yang berlangsung di Kampus iSTTS, Jalan Ngagel Jaya Tengah 73–77, Surabaya, diikuti jurnalis dari berbagai komunitas, mulai dari Pewarta Foto Indonesia (PFI) Surabaya, Forum Komunikasi Jurnalis Nahdliyin (FJN), Rumah Literasi Digital (RLD), Forwas Sidoarjo, hingga peserta umum. Pelatihan digelar secara intensif sejak pagi hingga sore dengan memadukan pemahaman konseptual dan praktik langsung.
Kepala Humas iSTTS Surabaya, Mas Rara Dwi Yanti Handayani, mengatakan adopsi AI dalam dunia jurnalistik merupakan keniscayaan. Namun, pemanfaatannya harus tetap mengacu pada etika profesi dan prinsip dasar jurnalistik.
“AI memang bisa membantu jurnalis bekerja lebih cepat dan efisien. Namun, akurasi, verifikasi, dan nurani tetap berada di tangan manusia. Karena itu, Institut STTS memfasilitasi ruang belajar agar jurnalis dapat memanfaatkan AI tanpa mengorbankan prinsip jurnalistik,” ujarnya.
Dari sisi materi, bootcamp ini menghadirkan akademisi dan praktisi AI lintas bidang. Dr. Lukman Zaman, S.Kom., M.Kom. membahas generative AI, prompt engineering, serta pemanfaatan AI untuk produksi konten multimedia dan visual.
Sementara Prof. Dr. Ir. Esther Irawati Setiawan, S.Kom., M.Kom., yang juga Google Expert dan Lead Organizer GDG Surabaya, mengulas social network analysis, multimodal AI, serta berbagai tantangan etika yang menyertai perkembangan kecerdasan buatan. Adapun Dr. Ir. Yosi Kristian, S.Kom., M.Kom. memaparkan penerapan machine learning dan computer vision yang kini mulai digunakan dalam pengolahan data visual hingga investigasi digital.
Berbeda dengan pelatihan berbasis teori, bootcamp ini dirancang dengan pendekatan hands-on learning. Peserta diminta membawa laptop untuk langsung mempraktikkan penyusunan prompt, pengolahan data, hingga simulasi penggunaan AI dalam aktivitas jurnalistik sehari-hari.
Kolaborasi iSTTS dengan Rumah Literasi Digital dinilai menjadi upaya menjembatani kebutuhan industri media dengan pengembangan keilmuan di lingkungan kampus. Di tengah maraknya konten otomatis dan meningkatnya risiko disinformasi, pelatihan ini diarahkan agar jurnalis mampu memanfaatkan teknologi secara kritis, bukan sekadar menjadi pengguna pasif.
Seluruh peserta mendapatkan sertifikat Introduction to Generative AI sebagai pengakuan kompetensi dasar. Sertifikat ini diharapkan menjadi bekal awal bagi jurnalis untuk beradaptasi dengan ekosistem media digital yang terus berkembang.
Direktur Rumah Literasi Digital, Andika Ismawan, menilai pelatihan tersebut sebagai respons konkret terhadap tantangan baru dunia jurnalistik di era kecerdasan buatan.
“AI tidak bisa diposisikan sebagai pengganti jurnalis. Teknologi ini adalah alat bantu yang harus dikendalikan dengan literasi, etika, dan kesadaran akan dampaknya. Melalui bootcamp ini, kami ingin jurnalis memahami cara kerja AI sekaligus mengetahui batas penggunaannya,” kata Andika.
Ia menambahkan, kolaborasi dengan iSTTS menjadi langkah strategis untuk mempertemukan keunggulan akademik dengan kebutuhan praktis insan pers di lapangan.
“Jurnalis saat ini dituntut bekerja cepat, tetapi tetap akurat. Tanpa literasi digital yang memadai, AI justru berpotensi menjadi sumber kesalahan baru. Karena itu, pelatihan berbasis praktik seperti ini menjadi relevan dan dibutuhkan,” pungkasnya.
Melalui kegiatan ini, iSTTS menegaskan perannya sebagai institusi pendidikan yang responsif terhadap dinamika industri media dan perkembangan teknologi. Tidak hanya mencetak talenta di bidang sains dan teknologi, iSTTS juga berupaya menjaga kualitas informasi publik dengan membekali jurnalis keterampilan AI yang etis, akurat, dan bertanggung jawab.
Editor : Redaksi