Kilasbisnis.com, Bandung - Kawasan agrowisata dan edukasi pertanian terpadu Eptilu (Fresh From Farm) di Desa Mekarsari, Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut, Jawa Barat, mengembangkan sistem pertanian berbasis teknologi untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil panen. Melalui penerapan green house dan irigasi digital, kawasan ini mampu memproduksi cabai lebih dari satu ton setiap pekan.
Owner Eptilu, Rizal Fahreza, mengatakan sebelum pengembangan dilakukan, teknik budidaya yang diterapkan masyarakat sekitar masih bersifat konvensional. Sejak berdiri pada 2019, Eptilu kemudian dikembangkan menjadi pusat edukasi pertanian modern berbasis teknologi tepat guna.
Komoditas seperti cabai dan tomat dibudidayakan dengan sistem green house, pengaturan nutrisi terukur, serta irigasi otomatis yang dikendalikan secara digital. Sistem tersebut memungkinkan pengaturan penyiraman dan nutrisi tanaman secara presisi melalui aplikasi di ponsel pintar.
“Air untuk penyiraman bisa kami atur lewat aplikasi. Jadi kontrolnya presisi, tidak berlebihan dan tidak kurang. Semua bisa dimonitor dari ponsel,” ujar Rizal saat menerima kunjungan media dalam kegiatan Capacity Building dan Media Gathering BI Jatim 2026, Jumat (13/2/2026).
Rizal menjelaskan, konsep yang dikembangkan mengedepankan pembelajaran berbasis perbandingan antara sistem pertanian alami dan sistem berbasis teknologi. Pengunjung dapat melihat langsung perbedaan hasil tanaman konvensional dengan tanaman yang dirawat menggunakan teknologi modern.
Menurut dia, pendekatan tersebut ditujukan untuk menunjukkan dampak nyata pemanfaatan teknologi terhadap produktivitas dan ketahanan tanaman. Program edukasi menyasar petani, pelajar, hingga pemangku kebijakan.
Teknologi budidaya yang diterapkan diadopsi dari Amerika Serikat dan disesuaikan dengan kondisi iklim serta karakter tanah di Garut. Sistem green house berkapasitas 4.000 pohon itu mendapat dukungan Bank Indonesia sejak 2022 untuk percepatan pembangunan infrastruktur pertanian modern.
Dalam tiga bulan setelah tanam perdana, cabai sudah dapat dipanen dan selanjutnya dipanen rutin setiap pekan. “Setiap minggu bisa panen dan sekali panen di atas satu ton,” kata Rizal.
Tanaman cabai di kawasan tersebut juga dapat bertahan hingga tiga tahun, sehingga dinilai lebih efisien dari sisi siklus produksi. Hasil panen tidak hanya memenuhi kebutuhan pasar Garut, tetapi juga dipasarkan ke DKI Jakarta dan Banten.
Selain menjual produk segar, Eptilu mengembangkan produk olahan hortikultura guna meningkatkan nilai tambah. Sejak berdiri, pengelolaan lahan Eptilu berkembang dari 5 hektare menjadi 75 hektare.
“Kami ingin membuktikan bahwa teknologi di sektor pertanian bukan hanya meningkatkan hasil, tetapi juga membangun ekosistem yang berkelanjutan dan mensejahterakan petani,” ucap Rizal.
Pengembangan kawasan ini diarahkan untuk memperkuat ekosistem pertanian dari hulu hingga hilir, sekaligus menjadi model modernisasi pertanian berbasis teknologi di daerah.
Editor : Ardhia Putri