Kilasabisnis.com, Surabaya - Industri fast fashion terus berkembang pesat dengan menghadirkan pakaian murah dan tren terbaru dalam waktu singkat. Model bisnis ini memungkinkan konsumen memperoleh busana sesuai gaya terkini tanpa perlu mengeluarkan biaya besar. Namun, di balik popularitasnya, fast fashion membawa dampak serius bagi lingkungan dan pekerja.
Laporan berbagai lembaga lingkungan menyebut industri mode sebagai salah satu penyumbang polusi terbesar di dunia. Proses produksi, terutama pewarnaan kain, menghasilkan limbah kimia berbahaya yang mencemari air. Selain itu, penggunaan bahan sintetis seperti poliester menambah tumpukan sampah plastik yang sulit terurai. Produksi kapas pun membutuhkan ribuan liter air untuk satu kaus, memperburuk krisis air di sejumlah wilayah.
Baca juga: Fast Fashion: Tantangan Lingkungan dan Harapan Keberlanjutan dalam Industri Mode di Indonesia
Dampak sosial juga menjadi sorotan. Banyak buruh garmen di negara berkembang bekerja dengan upah rendah, jam kerja panjang, dan kondisi berisiko. Tragedi runtuhnya Rana Plaza di Bangladesh pada 2013 menjadi simbol nyata dari sisi gelap industri ini.
Meski demikian, kesadaran konsumen mulai bergeser. Generasi muda mulai melawan. Mereka bangga *thrifting*. Bangga pakai baju bekas. Bangga bertanya: *Who made my clothes?* Gerakan *slow fashion* tumbuh. Beberapa merek besar pun mulai ikut. Koleksi ramah lingkungan. Program daur ulang.
Fast fashion masih jadi tren global. Tapi masa depan mode? Itu soal pilihan. Mau tetap cepat dan murah. Atau mau lebih hijau. Lebih adil. Lebih manusiawi.
Gerakan *slow fashion*, *thrifting*, dan kampanye #WhoMadeMyClothes mendorong perubahan menuju industri mode yang lebih etis dan berkelanjutan.
Beberapa merek besar kini mulai menghadirkan koleksi ramah lingkungan serta program daur ulang.
Fast fashion tetap menjadi tren global, tetapi masa depan mode bergantung pada pilihan konsumen dan komitmen industri untuk bertransformasi. (*)
---
*Diolah dari beberapa sumber
Editor : Ardhia Putri