Kilasbisnis.com,Surabaya - Universitas Negeri Surabaya (UNESA) kembali mencatat sejarah di dunia pendidikan tinggi nasional. Kampus yang dikenal dengan semangat inovasinya ini resmi memecahkan rekor nasional Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) lewat kegiatan bedah buku massal yang melibatkan 11.078 mahasiswa. Namun, lebih dari sekadar rekor, UNESA mengirim pesan kuat: kualitas universitas masa kini harus dibuktikan lewat data, karya, dan budaya baca yang hidup.
Kepala UPT Perpustakaan UNESA, Prof. Drs. Suroto, M.A., menegaskan bahwa capaian tersebut bukan sekadar seremoni, melainkan bentuk nyata kontrol mutu dan kolaborasi akademik lintas fakultas.
“Kami melakukan verifikasi ketat bersama fakultas. Capaian 11.078 mahasiswa ini bukan hanya angka, tetapi menunjukkan refleksi, kerja keras, dan kesadaran bahwa mahasiswa datang bukan sekadar kuliah, tetapi untuk tumbuh membaca dunia,” ujarnya.
Selain jumlah peserta yang masif, UNESA juga mencatat 3.191 judul buku yang dibedah mahasiswa. Menurut Suroto, keberagaman ini menandai keberhasilan kampus dalam mendorong literasi yang luas dan terukur. Ia menjelaskan bahwa program lima langkah gerakan membaca mahasiswa menjadi bukti bahwa literasi dapat dikembangkan melalui manajemen akademik yang sistematis, bukan sekadar imbauan moral.
Rektor UNESA, Prof. Dr. Nurhasan, M.Kes. (Cak Hasan), menyebut capaian ini sebagai fondasi penting bagi pendidikan tinggi modern. Menurutnya, universitas yang ingin kompetitif di era transformasi pendidikan harus menciptakan lingkungan yang menumbuhkan kemampuan berpikir kritis, produktif, dan ekspresif.
“Program review buku ini menumbuhkan kebiasaan membaca, berpikir, dan menulis. Sebanyak 11.078 unggahan review merupakan bukti konkret kreativitas akademik mahasiswa. Data ini penting bukan hanya untuk kampus, tetapi juga bagi pemerintah dalam mengembangkan fasilitas pendidikan,” jelasnya.
Cak Hasan menegaskan, literasi bukan hanya kebutuhan akademisi, tetapi juga dasar pembentukan masyarakat berdaya intelektual tinggi.
“Kita ingin bangsa ini unggul dalam kemampuan analisis, riset, dan pengetahuan, bukan hanya kekuatan fisik,” tegasnya.
Perwakilan MURI, Sri Widayati, mengonfirmasi bahwa kegiatan ini resmi memecahkan rekor nasional baru. Rekor sebelumnya dicatat di Jakarta dengan 6.000 peserta.
“Untuk memecahkan rekor cukup 10 persen lebih banyak. Namun UNESA hampir dua kali lipat. Ini capaian spektakuler,” ujarnya.
Dengan capaian ini, UNESA menempatkan diri sebagai pelopor gerakan literasi berbasis kinerja terukur di Indonesia. Kampus ini menjadi contoh bagaimana budaya membaca dapat dijadikan standar mutu akademik yang dapat diaudit, bukan sekadar slogan.
UNESA kini tak hanya mencetak rekor, tetapi juga menetapkan arah baru bagi pendidikan tinggi Indonesia: menjadikan literasi sebagai indikator utama kualitas dan daya saing universitas di era pengetahuan.
Editor : Redaksi